Bank Sampah sebagai Upaya Ekonomi Sirkular di Sekolah


Bank Sampah sebagai Upaya Ekonomi Sirkular di Sekolah

Oleh: Purnawati, M.Pd.

Guru di UPT SMP Negeri 1 Nglegok Kabupaten Blitar

Tidak bisa dipungkiri bahwa sampah merupakan masalah klasik yang belum ditemukan formula yang jitu untuk menanganinya dimulai dari pengurangan, penggunaan kembali, hingga daur ulang. Sejauh ini sampah yang sudah terkelola masih minim dengan indikasi masih banyak masyarakat membuang sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Sekolah merupakan tempat strategis untuk memberi edukasi tentang pengelolaan sampah kepada generasi muda karena di tempat ini setiap hari mereka bertemu. Sebagai pertanggungjawaban ekologi, sekolah mempunyai tugas untuk memberi edukasi pengelolaan sampah melalui aneka cara dan salah satunya adalah mendirikan bank sampah di sekolah. Lebih dari itu, bank sampah di sekolah merupakan terobosan positif yang mendekatkan aksi pengelolaan sampah dengan ekonomi secara nyata karena melalui aktivasi bank sampah akan betul betul terealisasi konsep bahwa sampah adalah berkah.

Diartikan secara praktis, bank sampah di sekolah adalah kegiatan pengumpulan sampah layak jual dari rumah warga sekolah dibawa ke sekolah untuk dijual ke pengepul atau tukang rosok dan uang hasil penjualannya dikembalikan kepada para penyetor sampah (nasabah). Kegiatan bank sampah berlaku bagi seluruh warga sekolah mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga administrasi, petugas kebersihan, hingga siswa.

Pendirian bank sampah di sekolah didasarkan pada beberapa tujuan esensial, antara lain:

  1. mengubah perspektif bahwa sampah itu selalu kotor dan tidak bermanfaat;
  2. memberi edukasi tentang pengelolaan sampah produktif;
  3. membiasakan tanggung jawab memilah sampah di rumah
  4. memberi pengalaman tentang kegiatan ekonomi sirkular; serta
  5. sebagai alternatif kegiatan wirausaha di sekolah

Manfaat hadirnya bank sampah di sekolah sebagai alternatif menjalankan ekonomi sirkular untuk mendapatkan penghasilan dari menjual sampah. Uang hasil penjualan bisa digunakan untuk kepentingan kelas dan sebagian sedikit dibagikan kepada pengurus bank sampah di sekolah. Dalam kegiatan penimbangan sampah, siswa otomatis bergiat literasi numerasi dan giat ini juga memungkinkan berkembangnya jejaring kerja terkait perawatan lingkungan hidup.

Pelaksanaan bank sampah di sekolah dijalankan dalam serangkaian langkah prosedural, yaitu:

  1. Pembentukan Pengurus Bank Sampah Sekolah
  2. Menentukan rekanan
  3. Menentukan lokasi kegiatan
  4. Sosialisasi
  5. Menyiapkan alat dan media
  6. Membuat jadwal dan pengumuman
  7. Pelaksanaan
  8. Laporan Penjualan
  9. Monitoring dan evaluasi

Langkah pertama yang harus dilakukan dalam kegiatan bank sampah di sekolah adalah pembentukan pengurus bank sampah. Pengurus terdiri atas kepala sekolah sebagai penanggung jawab, guru sebagai pembina, dan siswa sebagai pelaksana. Pengurus bank sampah dari siswa diusahakan ada perwakilan dari setiap kelas untuk mempermudah koordinasi dengan siswa. Kepengurusan bank ini diperkuat dengan Surat keputusan Kepala Sekolah yang di dalamnya juga dielaborasikan deskripsi kerja setiap anggota. Tidak lupa dibentuk grup Whatsapp pengurus dan anggota untuk memudahkan komunikasi.

Sebelum kegiatan bank sampah dilaksanakan, harus dipastikan dulu sudah ada rekanan pembeli atau pengepul yang siap membeli barang barang kita. Menjalin kerja sama dengan beberapa rekanan dimungkinkan untuk mendapatkan penawaran harga yang lebih tinggi.

Berikutnya, perlu disepakati bersama tempat penimbangan sampah dan lokasi penyimpanan sampah yang telah dikemas dan siap diangkut oleh pengepul karena kadang pengepul tidak selalu bisa datang di hari penimbangan.

Setelah Surat keputusan tentang bank sampah diterbitkan, langkah selanjutnya adalah melakukan sosialisasi kepada warga sekolah. Sosialisasi kepada tenaga pendidik dan kependidikan bisa dilaksanakan pada saat rapat dinas, sedangkan kepada siswa bisa dilakukan pada saat upacara bendera. Saat sosialisasi tersebut, dijelaskan juga tentang jenis sampah yang bisa ditampung agar nasabah bisa menyesuaikan diri.

Langkah berikutnya, menyiapkan alat dan media. Alat dan media yang diperlukan dalam pelaksanaan bank sampah di sekolah, antara lain:

  1. Timbangan atau neraca
  2. Dokumen (buku catatan penimbangan, buku daftar hadir pengurus, buku catatan hasil penjualan, dan buku tabungan nasabah)
  3. Alat tulis kantor
  4. Stempel
  5. Karung sampah besar
  6. Tali rafia

Langkah selanjutnya adalah membuat pengumuman tentang jadwal penimbangan yang bisa disampaikan ke warga sekolah melalui grup Whatsapp guru, grup kelas, grup paguyuban wali kelas, siswa, dan lain-lain. Pengumuman juga bisa ditempel di papan pengumuman di sekolah. Mengingat banyaknya agenda di sekolah, jadwal penimbangan bisa diadakan sebulan sekali  Ada baiknya, hari penimbangan ditentukan sesuai kesepakatan dengan rekanan pembeli biar sampah bisa diangkut di hari yang sama, sehingga tidak sempat tertahan di sekolah .

Selanjutnya, pelaksanaan pengumpulan sampah. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, warga sekolah (kepala sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan, petugas kebersihan, serta siswa) membawa sampah layak jual dari rumah ke sekolah. Sampah tersebut lalu ditimbang dan dicatat dalam buku penimbangan untuk selanjutnya dijual ke pengepul. Penimbangan dilakukan oleh pengurus dari siswa didamping guru pembina. Hasil penjualan dicatat dalam buku catatan hasil penjualan. Selanjutnya, pengurus menghubungi pengepul untuk segera mengambil sampah yang telah dipilah dan dikemas rapi. Tidak lupa, pengurus kemudian mengisi daftar hadir. Total uang dari hasil penjualan kemudian disimpan di koperasi sekolah atau disimpan di bank. Tabungan dicairkan pada waktu yang telah disepakati, misalnya menjelang dies natalis sekolah atau menjelang hari raya untuk penyemangat mereka.

Setelah menerima uang dari hasil penjualan beserta rincian harga per jenis sampah, pengurus membuat laporan di buku penjualan dan mengadministrasikan perolehan masing-masing nasabah lalu mengumumkannya di grup Whatsapp.

Monitoring dan evaluasi dilakukan setiap bulan setelah selesai laporan penjualan untuk melihat kendala dan efektivitas kegiatan bank sampah dalam tahap ini juga.

Kemungkinan tantangan yang muncul, antara lain:

  1. harga barang bekas fluktuatif;
  2. pola pikir (mindset) yang belum sama antarwarga sekolah; serta
  3. kerja kelas wali kelas sangat esensial dalam mengawal pelaksanaan bank sampah di sekolah.

Berdasarkan tujuan dan manfaat hadirnya bank sampah di sekolah, sudah saatnya setiap sekolah mendirikan bank sampah sesuai dengan kapasitas masing-masing. Sesuai dengan salah satu prinsip adiwiyata, partisipatif, seluruh civitas sekolah patut mendukung dan mensukseskan kegiatan ekonomi sirkular ini dengan cara berpartisipasi aktif. Sampah layak jual bisa didatangkan dari rumah siswa, guru, karyawan dan siapa pun yang bekerja di sekolah. Dimulai dari penetapan tujuan yang jelas, susunan pengurus yang handal, menjalankan prosedur dengan baik, hingga pelaporan yang dilanjutkan dengan monitoring evaluatif, maka diyakini kegiatan ekonomi hijau ini bisa berjalan maksimal dan berkontribusi aktif untuk perbaikan lingkungan dan pembelajaran konomi sirkular di sekolah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Sekolah Lainnya

Pengumuman

Libur Permulaan Ramadhan 1447 H / 2026 M

Prestasi

UMM Open Karate Championship 2026 Tunggal Putri
UMM Open Karate Championship 2026 Tunggal Putra

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App Web Sekolah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman