Oleh: Blog Edukasi & Inovasi Pembelajaran
Kategori: EdTech / Inovasi Pendidikan / Pembelajaran Bahasa
Waktu Baca: ± 4 Menit
Siapa bilang bahasa daerah dan teknologi mutakhir tidak bisa menyatu? Di tengah pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI), ada kekhawatiran bahwa budaya lokal dan bahasa daerah seperti Basa Jawa akan makin terpinggirkan oleh generasi muda. Namun, sebuah karya inovasi luar biasa dari Kurnia Widy Astuti, S.Pd., guru Bahasa Jawa di UPT SMPN 1 Nglegok, membuktikan sebaliknya.
Melalui karya inovasinya yang diajukan pada Anugerah Guru PRIMA Jawa Timur 2026 bertema “Akselerasi Transformasi Pendidikan Indonesia di Era AI”, beliau berhasil memanfaatkan AI untuk melatih keterampilan berpidato (sesorah) murid-muridnya secara interaktif dan menyenangkan.
Mari kita bedah bagaimana teknologi AI ini mengubah kelas Bahasa Jawa menjadi kelas favorit Gen-Z!
Masalah Klasik: Speaking Anxiety & Pelafalan Basa Jawa
Bagi sebagian besar siswa kelas 9 SMP, menyampaikan pidato (sesorah) dalam Basa Jawa bukanlah hal yang mudah. Tantangan terbesar yang sering ditemui adalah:
- Kecemasan Berbicara (Speaking Anxiety): Siswa merasa canggung, takut salah, dan kurang percaya diri saat berbicara di depan kelas.
- Kekeliruan Pelafalan (Artikulasi): Banyak siswa kesulitan membedakan fonologi Basa Jawa yang khas, seperti vokal A/O miring (misal: kanca terucap kanca murni), serta konsonan sensitif seperti T vs Th (tetep vs thole) atau D vs Dh (daya vs dhumateng).
- Umpan Balik yang Terbatas: Dalam kelas yang heterogen, guru sering kesulitan memberikan feedback pelafalan secara langsung dan personal kepada satu per satu siswa.
Solusi Inovatif: AI Speech Evaluator sebagai Pelatih Pribadi
Untuk mengatasi tantangan ini, digagaslah media pembelajaran interaktif berbasis aplikasi/web bernama AI Speech Evaluator. Aplikasi ini berfungsi sebagai personal pronunciation coach yang memanfaatkan algoritma AI Voice Recognition.
Fitur-Fitur Unggulan AI Speech Evaluator:
- Real-Time Speech-to-Text: Memproses input suara murid secara instan dan mencocokkannya dengan dataset Basa Jawa baku.
- Instant Visual & Numerical Feedback: Menampilkan skor kelancaran (fluency score %), skor akurasi artikulasi (accuracy score %), serta visualisasi warna kata (hijau = tepat, merah = perlu perbaikan).
- Error Diagnostics Engine: Mendeteksi lokasi kesalahan kata demi kata secara presisi.
Bagaimana Pembelajaran Berlangsung? (Deep Learning & Inkuiri)
Inovasi ini mengombinasikan pendekatan Inkuiri, Project-Based Learning (PjBL), serta prinsip Deep Learning:
- Mindful (Fokus & Tenang): Pembelajaran diawali dengan teknik STOP untuk mengondisikan emosi dan fokus siswa sebelum mulai berlatih.
- Joyful (Menyenangkan): Latihan dikemas dengan konsep gamifikasi melalui perolehan skor AI. Siswa dapat mengulang latihan tanpa merasa dihakimi (non-judgmental feedback).
- Meaningful (Bermakna): Naskah pidato disusun dengan tema peradaban digital. Siswa diajarkan bahwa meskipun AI digunakan sebagai alat bantu, roh utama sesorah tetap ada pada rasa dan unggah-ungguh (etika kesopanan).
- Mentoring Skill (Kelompok Inklusif): Siswa yang lebih mahir memandu teman kelompoknya, menciptakan kolaborasi yang kuat dan menghapus kesenjangan belajar.
Hasil Nyata yang Menakjubkan!
Penerapan AI Speech Evaluator di UPT SMPN 1 Nglegok membuahkan hasil yang sangat signifikan, baik secara data maupun perubahan sikap siswa:
- Peningkatan Nilai Rata-Rata Sesorah: Nilai rata-rata unjuk kerja siswa melesat dari 61,2 (kategori kurang) pada awal asesmen menjadi 88,4 (kategori sangat baik).
- Akurasi Artikulasi Meningkat: Skor rata-rata akurasi pelafalan AI naik dari 58,5% pada percobaan pertama menjadi 91,2% pada percobaan ketiga.
- Ketuntasan Belajar: Ketuntasan belajar kelas meningkat tajam dari yang semula hanya 40% menjadi 96% siswa tuntas.
- Bebas Rasa Takut: Siswa tidak lagi merasa canggung atau takut salah saat berbicara Basa Jawa.
Refleksi & Harapan Masa Depan
Melalui alur STAR (Situation, Challenge, Action, Result), inovasi ini telah membuktikan bahwa pelajaran Bahasa Jawa tidak lagi dipandang sebagai pelajaran kuno atau menakutkan, melainkan mata pelajaran yang keren, modern, dan bernilai tinggi.
Langkah ke depan, pengembangan dataset AI ini akan diperluas bersama Komunitas Belajar (Kombel) Bahasa Jawa Kabupaten Blitar untuk mengakomodasi berbagai dialek lokal, serta disebarluaskan ke sekolah-sekolah lain.
Bagaimana Menurut Anda?
Apakah sekolah Anda juga sudah menerapkan AI untuk melestarikan bahasa dan budaya daerah? Mari berdiskusi di kolom komentar di bawah!
(Sumber Informasi: Dokumen Karya Inovasi Pembelajaran – Kurnia Widy Astuti, S.Pd., UPT SMPN 1 Nglegok)



